stimulasi-terbaik-pada-masa-emas-mengoptimalkan-kecerdasan-anak

Masa emas perkembangan otak merupakan masa yang sangat penting. Pada masa ini struktur otak balita mengalami perkembangan yang sangat pesat. Stimulasi yang diberikan pada masa ini akan berpengaruh besar pada kecerdasan, kreatifitas dan perilaku anak. Proses perkembangan otak ini berlangsung sangat cepat hingga balita berusia 3tahun.

Seorang bayi ternyata adalah jenius kecil yang tak pernah kita kira. Asalkan kita tahu bagaimana memberikan pendidikan dini kepada bayi kita. Karena orang tua adalah guru satu-satunya bagi seorang bayi dalam tahun-tahun pertamanya. Berdasarkan penelitian para ahli neurologi, perkembangan otak anak usia 6 tahun mencapai 9/10 otak orang dewasa. Ini berarti anak dengan usia 0-10 tahun, memiliki penyerapan informasi dan kemampuan belajar yang sangat luar biasa.

Pada usia 8 bulan, otak bayi memiliki sekitar 1000 triliun sambungan saraf. Pada usia 10 tahun, jumlah itu berkurang menjadi hanya 500 triliun atau kurang dari itu.Pengalaman pada usia dini berdampak terhadap penurunan jumlah sambungan saraf. Otak bekerja atas dasar “gunakan; kalau tidak, hilang”.

Penelitian pada anak-anak yang terabaikan, yang jarang disentuh atau diajak berbicara, dan yang memiliki sedikit saja kesempatan untuk menjelajahi dan bereksperimen dengan mainan, memiliki otak yang ukurannya 20-30% lebih kecil daripada kebanyakan anak seusia mereka.

50% kemampuan belajar dikembangkan dalam empat tahun pertama kehidupan, 30% lagi sampai usia 8 tahun dan 20% sisanya pada usia 18 tahun. Segala yang kita pelajari kemudian berkembang dari pola-pola yang dibakukan pada tahun-tahun tersebut.

“Para ahli ilmu saraf telah menegaskan bahwa derap pertumbuhan terbesar otak mencapai akhirnya sekitar usia 10 tahun” ~ A Child Brain – Majalah  TIME.

Karena waktu yang sangat terbatas ini sebaiknya orangtua memanfaatkannya dengan baik, dengan cara memberikan stimulasi sebanyak-banyaknya sejak dini. Stimulasi yang diberikan pada masa ini sangat efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan balita. Sebaliknya, stimulasi yang kurang akan mempengaruhi kecerdasan balita. Namun stimulasi harus diberikan secara menyeluruh pada berbagai aspek misalnya system penginderaan meliputi pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan pengecapan. Selain itu stimulasi juga harus merangsang gerakan kasar maupun halus serta merangsng perasaan dan pikiran balita.

            Lalu apa yang harus diperhatikan orangtua dalam memberikan stimulasi pada balita? Pertama adalah stimulasi harus dilakukan dengan cara bermain, dalam suasana yang menyenangkan, penuh kegembiraan dan kasih sayang. Berikan stimulasi sesuai dengan usia dan tahapan tumbuh kembang balita.

Apakah Anda memanfaatkan sebaik-baiknya tahun-tahun yang paling berdampak tersebut dalam pendidikan anak Anda?

 

v

belajar-di-sekolah-saja-tidak-cukup

Saat ini banyak para orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada  pihak sekolah. Selain karena kesibukan pekerjaan, mereka juga berpendapat telah  memilihkan sekolah yang terbaik untuk si buah hati. Sehingga, tidak perlu lagi  membebani anak dengan kegiatan pendidikan di rumah. Padahal, ada beberapa alasan  mengapa menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah adalah kurang bijaksana.

Alasan pertama adalah fakta bahwa anak-anak melewatkan waktu di rumah lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding di sekolah. Dalam setahun rata-rata anak menghabiskan waktunya selama 1.505 jam di sekolah. Bandingkan dengan 3.605 jam yang dihabiskannya dirumah. Tergambar betapa tidak adilnya kita jika membebankan beban pendidikan seluruhnya pada pihak sekolah. Lagipula, hanya sedikit waktu yang diterima oleh anak dalam bentuk perhatian individual selama di sekolah. Disisi lain terbayang betapa banyaknya  waktu yang terbuang di rumah.

Alasan kedua adalah kecenderungan sekolah untuk fokus pada kecerdasan linguistik dan matematis. Padahal, Howard Gardner, akademisi dari Universitas Harvard,  mencatat setidaknya ada 7 tipe kecerdasan yang perlu dikembangkan pada anak, yaitu : linguistik (menulis, orasi, dsb), matematis/logis, musikal, visual/spasial (melukis, merancang bangun, dsb), kinestetik (gerak tubuh), inter personal (berhubungan dengan orang lain), dan intra personal (berpuisi, dsb). Jelas harus menjadi  inisiatif orang tua di rumah untuk melengkapi kecerdasan-kecerdasan yang tidak dikembangkan di sekolah.

Alasan ketiga adalah anak-anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk sukses, namun juga serangkaian keterampilan dan pegangan nilai-nilai. Keterampilan tersebut diantaranya keterampilan kerja, keterampilan analitis, dan keterampilan sosial. Sedangkan nilai-nilai yang perlu dikembangkan pada anak misalnya integritas, kejujuran, toleransi dan sebagainya. Keterampilan dan nilai-nilai tersebut seringkali tidak dapat diajarkan lewat pendekatan formal di sekolah.

Namun, orang tua tidak perlu resah dan merasa terbebani. Pada dasarnya anak dapat belajar lebih efektif dilingkungan rumah yang santai dan tidak formal. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah media dan alat belajar yang dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif di rumah, sekaligus memfasilitasi kebutuhan belajar anak secara lengkap baik aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), maupun nilai-nilai (values).

v

mengembangkan-konsep-pemahaman-pada-anak

Setiap orang tua berupaya meningkatkan kecerdasan pada anaknya, namun jarang yang menyadari bahwa kecerdasan sebenarnya mulai dibentuk sejak dini. Perumbuhan otak yang sangat pesat justru terjadi pada awal kehidupan. Itulah sebabnya mengapa orang tua harus memperhatikan hal-hal yang dapat menunjang kecerdasannya seperti kecukupan akan gizi pada makanan yang dibutuhkan. Disamping memberikan gizi yang cukup, stimulasi otak juga penting yaitu dengan mendengarkannya musik atau bernyanyi dan mengajaknya bercakap-cakap. Otak merekam apa yang dapat dicatat dari lingkungannya. Ia mendengar, bereaksi terhadap sentuhan, belajar mengingat dan juga emosi sang ibu dapat mempengaruhinya. Dari sinilah konsep pemahaman mulai diperkenalkan.

            Setelah lahir, lingkungan mengambil alih.  Arus pemandangan, suara, bunyi, bau, sentuhan serta yang paling penting bahasa dan kontak mata adalah faktor-faktor pembentukan otak bayi. Berkaitan dengan hal tersebut melalui peran serta orang tua sangatlah penting dalam mengoptimalkan potensi anak dengan memperkenalkan pemahaman akan konsep dasar yaitu: warna, angka, ukuran, bunyi, bentuk, posisi & arah, bau & rasa, tekstur, gerak, lawan kata, dan waktu. Bayi akan menangkap ide dari konsep itu dan muncullah strategi untuk berpikir dengan merespon secara verbal ataupun non verbal. Orang tua harus menanggapi respon itu mulai dari pengenalan pemahaman konsep dasar kemudian memperkuatnya ke pemahaman pengetahuan dasar. Kemampuan kreatifitas berpikir dalam memahami dunia sekitar secara nyata sangatlah penting apalagi ditunjang dengan program yang komprehensif. Selain itu juga proses menganalisa menjadi terstruktur. Meninjau kembali pengertian belajar sama dengan bermain pada anak usia dini dan pengetahuan tidak ada batasnya maka konsep pemahaman pengetahuan dasar kemudian dikembangkan kepemahaman secara spesifik. Anak diperkenalkan bagaimana menggunakan encyclopedia sehingga tidak ada pertanyaan yang tak terjawabkan. Membentuk hubungan yang erat dan positif serta kebiasaan meng-gunakan referensi dari sejak dini, hasil akhir yang didapatkan adalah riset kompetensi. Sebuah kalimat yang memotivasi orang tua dan anak “Ibu dan Ayah tidak tahu jawabannya , tetapi akan menunjukkan bagaimana mencari jawabannya”. Hanya dengan Family Learning program yang terkordinasi, saling berhubungan dan terintegrasi orang tua akan lebih efektif menjalankan peranannya. (HDN)

membaca-untuk-bayi-anda

Penelitian para neurologist membuktikan masa anak-anak sejak usia 0-6 tahun adalah masa paling krusial. Pada masa ini, otak anak DUA KALI lebih aktif membangun synaps dibandingkan otak orang dewasa.

Synaps adalah koneksi antar neuron yang dapat dilalui zat kimia sehingga memungkinkan sel-sel otak berkomunikasi satu sama lain. Synaps ini sangat berperan aktif dalam KECERDASAN otak manusia. Jumlah synaps mencapai puncaknya pada usia 2-3 tahun. Jumlahnya bisa mencapai 15.000 synaps per neuron. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan synaps dalam otak orang dewasa.  Oleh sebab itu, pada masa ini otak dan pikiran seorang anak paling terbuka terhadap pengalaman baru dan pembentukan pola belajar. Otak mereka ibarat busa, mudah menyerap banyak informasi yang diterima dari lingkungannya.

Setelah itu di antara usia 10 tahun dan masa pubertas, otak tanpa ampun akan menghancurkan koneksi-koneksi yang paling lemah dan melindungi koneksi yang berdasarkan pengalaman telah terbukti berguna dan lebih sering DISTIMULASI.  Bahkan dalam penguasaan bahasa ibu, bahasa kedua, maupun bahasa ketiga sangat ditentukan pada 5 tahun pertama kehidupan seorang anak. Dan ternyata lebih MUDAH belajar bahasa kedua (bahasa asing) pada waktu bersamaan dengan bahasa ibu. Mereka dapat berbicara seperti seorang native speaker.

Dan jika mereka belajar setelah usia itu, hasilnya akan MENURUN secara bertahap, tetapi konsisten, khususnya selama pubertas.

Jadi…. tak pernah ada kata “TERLALU DINI” untuk belajar. Karena pada dasarnya anak melakukan pembelajaran sejak dari janin dalam rahim sang ibu dan begitu ia lahir.

Belajar mengucapkan kata pertama, belajar jalan, belajar makan sendiri, belajar bicara, belajar membaca dan masih banyak lagi kegiatan belajar anak yang telah dimulai sejak usia dini.

Dan semuanya dimulai dari RUMAH, atas bimbingan dan asuhan ORANG TUA!

Sebuah cara TERBAIK menstimulasi kecerdasan otak anak yang tepat adalah dengan MEMBACAKAN BUKU untuknya.  Jelas sekarang… membacakan BUKU adalah stimulasi yang penting untuk perkembangan otak anak. Lebih baik lagi jika membacakan buku-buku khusus yang memang dirancang sesuai perkembangan otak anak sejak dini, seperti buku-buku yang diterbitkan TIRA PUSTAKA, EDUCATIONAL TECHNOLOGIES, WORLD BOOK dan AL-QOLAM.

perkembangan-otak

Tahukah Anda bahwa tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode dimana miliaran sel Glial terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel syaraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antar neuron disebut dendrite berbentuk mirip sarang laba-laba dan axon yang berbentuk memanjang. Sebagai catatan, anak-anak kita dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel syaraf) di otaknya. [dikutip dari website DepKes RI: www.depkes .co.id/bayi/otak]

Bukan tentang jumlah neuron dalam kepala si kecil yang ingin kami garis bawahi, namun tentang fakta bahwa tiga tahun pertama perkembangan si kecil merupakan masa-masa emas dalam pembentukan otak cerdasnya. Karena otak, tumbuh dengan sangat pesat dan akan mencapai 70-80% pada 3 TAHUN PERTAMA kehidupan si kecil. Memberi rangsangan secaa tepat pada otak si kecil pada masa tersebut akan membantu si kecil mempertahankan sambungan neuron yang telah terbentuk saat proses eliminasi terjadi diusia 11 tahun.

Meski demikian, para orang tua tidak dapat secara sembarangan memberikan rangsangan dimasa tiga tahun pertama tersebut, karena mereka menyerap apa saja yang dilihat, didengar, dicium, dirasa dan disentuh dari lingkungan mereka. “Kemampuan otak mereKa untuk memilah atau menyaring pengalaman rasa tidak menyenangkan dan berbahaya belum berkembang.” papar dr. Susan, salah seorang nara sumber untuk website Departemen Kesehatan RI.

Hal inilah yang mendasari PT. Tigaraksa Satria dalam memenuhi kebutuhan akan pendidikan, dimana program tersebut telah dirancang khusus menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan si kecil. Program ini misalnya tidak memberikan beban pada si kecil untuk belajar. Namun lewat interaksi yang menyenangkan antara orang tua dan anak, dengan menggunakan kartu-kartu belajar yang menarik, anak-anak secara tanpa sadar belajar dengan gembira layaknya bermain dan orang tua dapat memastikan tiga tahun ke-emasan si kecil dapat mengantarkannya pada kesuksesan emas di masa depan.

efek-buruk-hukum-fisik-pada-anak

Efek Buruk Hukuman Fisik pada Anak - “Kalau sudah rewel, Anabele (3) benar-benar menjengkelkan. Ia merengek terus, tidak jelas apa maunya. Pernah suatu kali saya kehilangan kesabaran dan saya cubit kakinya sampai ia menangis. Sehabis itu saya menyesal. Apakah dampak dari cubitan saya akan membekas dalam ingatannya sampai ia besar nanti?” tanya Kesha, dari Petojo, Jakarta.

Selain menyakiti anak dan menimbulkan trauma, menghukum fisik juga dianggap tidak efektif untuk membuat anak jera. Artinya, anak mungkin berhenti rewel pada saat itu, tapi hanya karena ia takut mendengar bentakan Anda, melihat mata Anda yang melotot, dan merasakan sakitnya cubitan Anda di tubuhnya. Read more »

cara-melatih-anak-tentang-disispilin

Latih Anak Disiplin, Mudah, kok! - Hindari pemikiran bahwa anak masih terlalu kecil mengenal disiplin. Disiplin perlu, lho, diterapkan sejak usia dini. Mulai usia 1-2 tahun atau biasa disebut dengan masa toddler, anak butuh batasan dan lingkungan yang jelas strukturnya.

Di usia 1-2 tahun anak sedang ingin mencoba sejauh mana ia bisa menguasai, mengatur atau memanipulasi lingkungan sekitarnya. Jika tidak ada batasan, anak akan belajar melepas keinginan sesuka hati. Jadi percayalah bahwa batasan atau aturan itu perlu, bahkan sejak dini. Read more »